Baru beberapa hari yang lalu kisah yang akan saya ceritakan ini terjadi dan karena amat menyentuh hati dan juga sesuai yang dengan saya pikirkan makanya ingin saya buat menjadi sebuah tulisan.
Hari itu saya masih ingat bagaimana dinginnya udara diluar, hujan dengan suhu kisaran 4 derajat celcius yang membuat orang orang mengenakan mantel ataupun jaket tebal lengkap dengan syal yang melilit leher, sarung tangan juga boots bulu bulu. Saya, saya sedang menikmati teh beserta sepotong cake enak di sebuah cafe, menikmati nikmatnya penganan Barat dan hangatnya suasana cafe.
Namun tiba tiba saja seorang homeless masuk dengan seseorang yang karena jaraknya cukup dekat saya bisa memahami pembicaraan mereka. Sepertinya seseorang ingin membelikan sesuatu namun yang membuat hati saya meleleh cair seperti teh yang saya pesan adalah respon homeless tersebut yang hanya menginginkan secangkir teh walaupun orang yang membayar nya ingin membelikan lebih. Ingin rasanya saya ingin memeluk bapak tersebut dan mengucapkan pujian yang bertubi tubi.
Pengalaman tersebut membekas di hati saya karena saya diajarkan bagaimana mengambil apa yang kamu perlukan bukan yang kamu inginkan. Dan sekarang saya jadi banyak bertanya dengan diri saya sendiri, seberapa besar hak saya terhadap dunia dan isinya. Apa pantas saya terus mengambil dan mengambil kemudian menghabiskan tanpa kesadaran kemana sebaiknya saya habiskan. Betapa seorang yang secara fisik tidak rapi, sedikit kotor mampu membuat saya berpikir jauh dan merenung. Betapa dia yang kekurangan memiliki kelebihan pada cara pandang terhadap hidup.
Dan betapa hidup ini mungkin tidak lebih dari secangkir teh saja.
Hof, 3 Desember 2015

Comments
Post a Comment