Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2015

Registrasi di Balai Kota

Hai bloggers, bagi anda yang baru pertama kali menjejakkan kaki pertama kali di Eropa terutama di Jerman, ada hal penting yang harus anda lakukan pertama kali begitu sampai. Sesuai judul diatas yaitu melakukan registrasi di balai kota atau RATHAUS. Nah, sebelum melakukan pendaftaran pastikan anda membawa paspor (Ausweis) serta kontrak rumah (Mietvertrag). Prosesnya tidak akan lama, hanya memasukkan data anda ke dalam database mereka kemudian mengisi formulir apa anda terlibat dalam keanggotaan teroris atau tidak. Ini yang buat saya sedikit sedih, mereka belum mempercayai negara saya bebas teroris, hikshiks. Setelahnya anda akan diminta sidik jari kemudian menuggu sekitar sebulan agar residence permit anda keluar. Registrasi ini dimaksudkan apabila terjadi sesuatu pada anda, ada yang bertanggung jawab dan mengetahui anda terdaftar di kota tersebut. Sederhana prosesnya tapi penting! Dan terutama saya suka hasil foto di residence permit saya. Kelihatan anggun. Hehehe :). H...

Yang Abadi Hanya Perubahan

Saya baru habis membaca sebuah tulisan di kompasiana tentang introspeksi diri, kalimat yang ditulis penulisnya sederhana namun memiliki makna yang dalam, mungkin juga apa yang pernah dialami penulis dialami oleh saya sendiri. Dulu, ibu saya pernah mewanti wanti dengan pepatah : "Berbuat baik pada padai, berbuat jahat jangan sekali". Konon, ibu saya mendengarnya dari mertua beliau yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Saat itu saya mengiyakan saja, masih belum "ngeh" apa makna yang tersirat dibalik kata kata itu. Dan hidup saya pun berjalan, sekolah, bekerja, sekolah lagi dan mendapatkan pengalaman yang beraneka ragam dan rasa. Teman teman masuk dan keluar dalam pergaulan hidup dan lucunya mengikuti pekerjaan yang saya lakoni atau kondisi ekonomi/status yang saya punya. Maksudnya adalah ketika berada di puncak dan memiliki banyak uang/kekuasaan, teman teman berdatangan seperti semut dan dari yang saya kenal sampai yang sengaja mengenalkan diri pada saya. H...

SPAGHETTI!!!

Again, masi bercerita keluh kesah nasib anak rantau di negeri orang, hehehe. Well, sebenarnya merantau itu asik dan menjadikan seseorang bertambah wawasan dan pengetahuannya, membentuk karakter selama si perantau mau merubah kebiasaan buruknya dan menghargai negara sendiri, bahwa melihat kekayaan bangsa dari sisi budaya, agama, suku serta makanan (T_T) membuat perantau sadar hujan emas di negeri orang tidak lebih indah daripada hujan berlian di negeri sendiri :) Baru baru ini saya "dipaksa" untuk menyukai spaghetti, tau kan..Itu mie asal Italia yang panjang panjang mirip mie lidi Aceh. Alasan untuk menyukai nya ya karena mudah dibuat, tinggal rebus spaghettinya, tumis bawang, tomat, jamur, masukin susu sama pengental dan keju mozarella..Aduk2 sebentar dan tuangkan di atas mie yang sudah mengembang (serasa nulis resep, hehehe) dan siap disantap! Namun jangan tanya rasanya di lidah yang terbiasa dengan makanan yang kaya rasa seperti pliek u, asam keueng, rendang, telor...

Botol minum yang bisa di refund

Saya sedari kecil senang mengamati banyak hal terutama kalau sedang berjalan jalan ke suatu tempat. Ada poster, iklan yang terpasang pasti saya usahakan untuk membacanya dan kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang.  Dan kali ini saya sedikit bengong dengan mesin yang bisa menerima botol minuman yang perbotol biasanya bernilai 25 sen, tergantung jenisnya juga dan setelah diakumulasi, anda bisa memilih untuk belanja di supermarket atau disumbangkan, tinggal pencet tombol saja! Saya benar benar merasa malu, kaget dan merasa seperti anak kampung. Tekhnologi yang dimiliki Jerman ini benar benar mumpuni dan ramah lingkungan, karena plastik adalah limbah yang sulit terurai. Efeknya saya jadi rajin beli botol minuman walaupun air putih bisa diminum dari air keran langsung tapi kok saya lebih sreg beli air minum botolan, hehehe. Bagi saya tekhnologi ini harus diadopsi oleh negara saya secepatnya, akan sangat mendorong orang orang untuk menukarkan botol nya karena manfaat yang dip...

Ya Rabb

Ya Rabb, bagaimana aku bisa mengatakan aku mencintai Mu Bila masih berat dan enggan aku mengingat dan bersujud tersungkur dihadapan Mu Ya Rabb, bagaimana aku bisa mengatakan aku bersyukur pada Mu Bila aku tidak mampu memahami banyaknya nikmat yang Kau limpahi setiap harinya Ya Rabb, cinta ku padamu masih palsu dan dangkal Cintaku masih mengharap imbalan dan kurang bergairah laiknya aku menjumpai idolaku Maafkan aku Ya Rabb, karena kualitas Cinta ku belum menyamai kekasih Mu, yang bangun tengah malam di saat manusia tidur dengan lelapnya, yang bercucuran air mata memohon ampun dosa, yang bengkak kakinya karena bersujud bersyukur atas limpahan karunia Mu Lalu, apakah pantas aku berada di bumi dengan kesombongan dan kebodohan ini? Ya Rabb, sisakanlah cinta bagi ku yang kerap berdosa dan tidak sadar sebagai hamba ini, hingga dengan cinta yang sedikit itu aku mampu menjadi hamba yang bersyukur dan ikhlas pada apapun yang kau berikan Karena hamba masih ...

Pindah Kos

Ternyata punya banyak barang itu ga asik terutama pas pindah kos, huhuhu. Mana ga ada sobat dekat yang bisa bantu angkatin barang en kos baru letaknya di lantai 3 yang ga punya lift lagi, huhuhu. Saat saat seperti ini baru merasakan pahit getirnya hidup di perantauan (lebay). Jauh dari keluarga dan abang abang martabak, bakso dan sate yang kalau malam malam lapar bisa keluar en bawa pulang. Biar kata kampung sendiri jorok dan kurang teratur, tetap aja ada saat saat tertentu buat ngangenin dan dari kacamata anak rantau ternyata kampung sendiri lebih indah dan menyenangkan (terutama buat anak malas seperti saya) :D Dua kali merantau dan pindahan, situasi hampir mirip mirip dan saya selalu dihadapkan mampu untuk bertahan sendiri. Memang saya termasuk tipe lone ranger, karena ya kalau bisa dikerjain sendiri jangan merepotkan orang lain, hehehe. Dan itu juga menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menjadi lebih disiplin dan tangguh. Dua kata favorit saya. Kos saya yang baru suasananya...