Ternyata punya banyak barang itu ga asik terutama pas pindah kos, huhuhu. Mana ga ada sobat dekat yang bisa bantu angkatin barang en kos baru letaknya di lantai 3 yang ga punya lift lagi, huhuhu. Saat saat seperti ini baru merasakan pahit getirnya hidup di perantauan (lebay). Jauh dari keluarga dan abang abang martabak, bakso dan sate yang kalau malam malam lapar bisa keluar en bawa pulang. Biar kata kampung sendiri jorok dan kurang teratur, tetap aja ada saat saat tertentu buat ngangenin dan dari kacamata anak rantau ternyata kampung sendiri lebih indah dan menyenangkan (terutama buat anak malas seperti saya) :D
Dua kali merantau dan pindahan, situasi hampir mirip mirip dan saya selalu dihadapkan mampu untuk bertahan sendiri. Memang saya termasuk tipe lone ranger, karena ya kalau bisa dikerjain sendiri jangan merepotkan orang lain, hehehe. Dan itu juga menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menjadi lebih disiplin dan tangguh. Dua kata favorit saya. Kos saya yang baru suasananya mirip dengan rumah yang ibu dan ayah saya yang tempati pertama kali, sepetak ruangan yang lumayan besar dengan kasur dua buah dan lemari seadanya. Namun bagi saya ini terasa kos mahasiswa dibanding kos saya sebelumnya yang cukup elit, ada bak mandi segala namun suasana nya kok ga pas dengan kondisi yang saya inginkan, hehehe. Terlebih lagi dengan adanya satu kesatuan suku bangsa yang terlalu bahagia di malam hari sehingga yang lain menjadi tidak bahagia :D
Eniwei, walau jendela saya masi bersih alias belom ada gordennya ( belum sempat beli) dan saya harus berbagi kamar mandi yang lumayan sempit dan dapur yang cukup jorok ( belum sempat dibersihkan) tapi saya bahagia. Alhamdulillah.
Hof, 3.September. 2015
Eniwei, walau jendela saya masi bersih alias belom ada gordennya ( belum sempat beli) dan saya harus berbagi kamar mandi yang lumayan sempit dan dapur yang cukup jorok ( belum sempat dibersihkan) tapi saya bahagia. Alhamdulillah.
Hof, 3.September. 2015
Comments
Post a Comment