Saya baru habis membaca sebuah tulisan di kompasiana tentang introspeksi diri, kalimat yang ditulis penulisnya sederhana namun memiliki makna yang dalam, mungkin juga apa yang pernah dialami penulis dialami oleh saya sendiri.
Dulu, ibu saya pernah mewanti wanti dengan pepatah : "Berbuat baik pada padai, berbuat jahat jangan sekali". Konon, ibu saya mendengarnya dari mertua beliau yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Saat itu saya mengiyakan saja, masih belum "ngeh" apa makna yang tersirat dibalik kata kata itu. Dan hidup saya pun berjalan, sekolah, bekerja, sekolah lagi dan mendapatkan pengalaman yang beraneka ragam dan rasa. Teman teman masuk dan keluar dalam pergaulan hidup dan lucunya mengikuti pekerjaan yang saya lakoni atau kondisi ekonomi/status yang saya punya. Maksudnya adalah ketika berada di puncak dan memiliki banyak uang/kekuasaan, teman teman berdatangan seperti semut dan dari yang saya kenal sampai yang sengaja mengenalkan diri pada saya. Hal ini wajar namanya juga manusia ingin mendapatkan manfaat, yang salah bila hanya salah satu pihak dimanfaatkan terus menerus. Sahabat saya juga silih berganti, yang dulunya sering jadi tempat bertukar pikiran tiba tiba menjauh dan malah menjadi tempat adu argumen atau yang dulunya dekat menjadi renggang karena saya sempat menjadi pengangguran, hehehe.
Ternyata beginilah hidup, c'est la vie! Oia, apa relevansinya sama pepatah di atas?
Hmm, saya hidup belum terlalu lama, masi dangkal pemahaman saya mengenai kehidupan dan manusia manusia didalamnya. Namun bagi saya integritas itu penting, orang orang yang tidak memiliki atau suka berbohong terutama mengenai masalah uang, langsung saya masukkan dalam daftar hitam Saya mengerti orang bisa berubah karena berbagai hal, ada kesulitan kesulitan yang dialami dari pekerjaan, teman, keluarga dan lain lain, namun jangan memanfaatkan kepercayaan maupun kebaikan orang lain untuk menipu walaupun jumlahnya tidak seberapa. Kalau dari hal hal yang kecil saja tidak bisa dipercaya, bagaimana dengan hal hal yang besar?
Sialnya, saya bertemu dengan orang orang yang dari tampilan luarnya sangat bagus dan mulutnya sangat manis namun pengalaman saya dengan tipe seperti ini justru tidak mengenakkan. Persis yang diceritakan oleh kompasianer senior akibat "terlalu percaya". Akan tetapi dari orang orang yang kelihatan jahat, kumal dan kotor, saya mendapatkan mutiara pengetahuan atau tercerahkan. Oooh, betapa saya rindu ilmu makrifat!
Namun disisi lain, saya juga berpikir harus introspeksi diri...Jangan jangan selama ini akibat terlalu percaya plus dengan empathy yang berlebihan yang membuat orang mendapat peluang untuk menipu dan memanfaatkan. Aah, saya masi perlu banyak belajar melalui universitas kehidupan ini dan menelaah kembali pepatah kakek saya secara cermat.
Perubahan itu abadi, orang orang berubah, teman bisa berubah menjadi musuh atau sebaliknya. Saya juga bisa berubah. Hanya Dia Yang Maha Kekal dan Abadi.
Kesimpulannya, santai saja...jangan membenci dan jangan mencintai seseorang atau sesuatu "terlalu".
Ambil yang tengah tengah saja :)
Hof, 30 September 2015
Hof, 30 September 2015
Comments
Post a Comment