Hai perempuan perempuan hebat dimana pun anda berada? Apakah anda merasa cantik, pintar, baik hati, menjelang usia 30 tahunan namun belum menikah dan punya dilema apakah harus menikah dengan orang yang tidak anda cintai, bertahan dengan hubungan yang buruk dengan pria yang tidak pernah melamar anda, atau anda memilih menjadi lajang dengan melakukan berbagai aktivitas yang anda suka sambil berusaha juga berdo'a kepada Yang Kuasa bahwa suatu saat akan ada pria baik yang mencintai segala kelebihan dan kekurangan anda. Well, saya memilih opsi yang ketiga saja.
Bukan apa apa, di usia saya yang sekarang tekanan orang tua dan sosial semakin tinggi. Seakan akan sayalah yang harus disalahkan karena tidak menikah. Hehehe, saya mah cuek saja walau dalam hati saya juga memikirkan perasaan ibu saya yang menginginkan saya menikah cepat cepat. Saya selalu percaya kalau pernikahan yang dilakukan atas dasar keterpaksaan, takut dibilang perawan tua, menikah dengan orang yang tidak anda cintai akan menimbulkan hal yang kurang baik di dalam kehidupan pernikahan ke depan. Cekcok, saling tidak menghargai dan mungkin bercerai.
Mengapa saya bisa mengatakan hal itu karena terjadi pada teman dan temannya saya. Bagi saya perempuan yang sampai sekarang belum menemukan jodohnya, saya lebih baik berfokus pada hal hal positif bagi diri saya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Mencoba hal hal baru yang tidak pernah saya coba sebelumnya dan menikmati hari hari indah sebagai seorang lajang :). Semua hanya tergantung cara pandang, dan apa yang menjadi fokus anda. Selama anda berbuat baik, menghormati norma norma yang berlaku, kenapa harus khawatir dengan pendapat orang orang. Pendapat orang lain tentu dihargai tapi bukan yang menentukan jalan hidup kita.
Saya sendiri sudah bosan dengan pertanyaan kapan kawin, pernyataan bahwa saya terlalu memilih, sibuk karir dan lain lain. Bukannya tidak instropeksi, namun lebih fokus kepada apa yang dapat saya lakukan untuk mengembangkan kualitas saya sebagai perempuan dan masyarakat.
Saya sebenarnya menganggap ketika orang menanyakan kapan saya menikah saya menganggapnya sebagai bentuk perhatian kepada saya, namun yah minimal memberikan solusi. Misalnya eh, mau ga aku kenalin dengan pria temanku...Minimal kalau tidak menjadi suami bisa menjadi teman dan menambah jalinan silaturrahim. Ini sama saja dengan mengkritik tapi tidak memberikan solusi, hehehe...Jadi dengan bertambahnya umur saya semakin memiliki cara cara humor untuk mengantisipasi pertanyaan menikah dan menanggapinya juga semakin dewasa.
Ada beberapa perempuan yang saya kenal belum menikah bahkan sampai usia di atas 40 tahunan dengan alasan alasan berbeda, dari yang masuk akal sampai yang di luar kewajaran, hahahaha....tapi yang paling saya kagumi adalah perempuan yang memiliki prinsip menikah bukan hanya untuk mengejar status, takut di cap perawan tua/tidak laku, karena teman teman sudah kawin, dll yang akhirnya menurunkan standar pilihan karakter pasangannya (bukan secara materi ya :). Di pertengahan jalan, mulai lah ketahuan sifat asli dari pria yang dipilihnya. Bisa jadi pemalas, kasar atau pasif.
Karakter pria yang dikagumi wanita tentu saja adalah bertanggung jawab, dalam artian walaupun tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi pria yang memutuskan untuk menikahi seorang wanita wajib memenuhi kebutuhan wanita tersebut lahir batin. Kemudian bersifat penyayang seperti hadist Rasulullah SAW, pria yang paling baik diantara kalian adalah yang paling penyayang pada istrinya dan akulah yang paling penyayang.
Menarik bahwa perempuan boleh saja memiliki standar yang tinggi namun perempuan juga harus memperbaiki diri, menjadi wanita yang hanya pantas untuk pria pria super di luar sana.
"A hesitant man is the last thing in the world a woman needs. She needs a lover and warrior, not a Really Nice Guy". (John Eldredge)
Bukan apa apa, di usia saya yang sekarang tekanan orang tua dan sosial semakin tinggi. Seakan akan sayalah yang harus disalahkan karena tidak menikah. Hehehe, saya mah cuek saja walau dalam hati saya juga memikirkan perasaan ibu saya yang menginginkan saya menikah cepat cepat. Saya selalu percaya kalau pernikahan yang dilakukan atas dasar keterpaksaan, takut dibilang perawan tua, menikah dengan orang yang tidak anda cintai akan menimbulkan hal yang kurang baik di dalam kehidupan pernikahan ke depan. Cekcok, saling tidak menghargai dan mungkin bercerai.
Mengapa saya bisa mengatakan hal itu karena terjadi pada teman dan temannya saya. Bagi saya perempuan yang sampai sekarang belum menemukan jodohnya, saya lebih baik berfokus pada hal hal positif bagi diri saya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Mencoba hal hal baru yang tidak pernah saya coba sebelumnya dan menikmati hari hari indah sebagai seorang lajang :). Semua hanya tergantung cara pandang, dan apa yang menjadi fokus anda. Selama anda berbuat baik, menghormati norma norma yang berlaku, kenapa harus khawatir dengan pendapat orang orang. Pendapat orang lain tentu dihargai tapi bukan yang menentukan jalan hidup kita.
Saya sendiri sudah bosan dengan pertanyaan kapan kawin, pernyataan bahwa saya terlalu memilih, sibuk karir dan lain lain. Bukannya tidak instropeksi, namun lebih fokus kepada apa yang dapat saya lakukan untuk mengembangkan kualitas saya sebagai perempuan dan masyarakat.
Saya sebenarnya menganggap ketika orang menanyakan kapan saya menikah saya menganggapnya sebagai bentuk perhatian kepada saya, namun yah minimal memberikan solusi. Misalnya eh, mau ga aku kenalin dengan pria temanku...Minimal kalau tidak menjadi suami bisa menjadi teman dan menambah jalinan silaturrahim. Ini sama saja dengan mengkritik tapi tidak memberikan solusi, hehehe...Jadi dengan bertambahnya umur saya semakin memiliki cara cara humor untuk mengantisipasi pertanyaan menikah dan menanggapinya juga semakin dewasa.
Ada beberapa perempuan yang saya kenal belum menikah bahkan sampai usia di atas 40 tahunan dengan alasan alasan berbeda, dari yang masuk akal sampai yang di luar kewajaran, hahahaha....tapi yang paling saya kagumi adalah perempuan yang memiliki prinsip menikah bukan hanya untuk mengejar status, takut di cap perawan tua/tidak laku, karena teman teman sudah kawin, dll yang akhirnya menurunkan standar pilihan karakter pasangannya (bukan secara materi ya :). Di pertengahan jalan, mulai lah ketahuan sifat asli dari pria yang dipilihnya. Bisa jadi pemalas, kasar atau pasif.
Karakter pria yang dikagumi wanita tentu saja adalah bertanggung jawab, dalam artian walaupun tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi pria yang memutuskan untuk menikahi seorang wanita wajib memenuhi kebutuhan wanita tersebut lahir batin. Kemudian bersifat penyayang seperti hadist Rasulullah SAW, pria yang paling baik diantara kalian adalah yang paling penyayang pada istrinya dan akulah yang paling penyayang.
Menarik bahwa perempuan boleh saja memiliki standar yang tinggi namun perempuan juga harus memperbaiki diri, menjadi wanita yang hanya pantas untuk pria pria super di luar sana.
"A hesitant man is the last thing in the world a woman needs. She needs a lover and warrior, not a Really Nice Guy". (John Eldredge)

Comments
Post a Comment