Skip to main content

Kritik Mengkritik, Kebiasaan atau Kesenangan?

Jujur sebenarnya saya paling malas melihat social media akhir akhir ini. Sepertinya terdapat dua kubu besar antara yang pro pemerintah dan yang kontra pemerintah. Awal awal saya juga sangat menyenangi aktivitas ini. Seperti merasa sudah melakukan sesuatu atau berguna sampai saya membaca sebuah buku "Satanic Finance" dimana setan bertugas mengadu domba antara manusia, membuat permusuhan dan memancing kerusuhan. Saya terdiam. Jangan jangan selama ini saya sudah memuluskan langkah langkah setan. Nay!

Balik lagi ke kondisi pemerintahan. Ada kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil langsung protes, tulis status besar besar di social media dengan sindiran kalau perlu cacian. Pemerintah buat kebijakan pro rakyat, sanjung sebesar besarnya kalau perlu puji setinggi langit dan bintang. Luar biasa (aneh). Yang saya pikirkan adalah betapa pengguna social media kadang kadang sudah menjadi keyboard warrior.

Dalam pandangan saya, hidup ini menyeimbangkan dan seimbang itu sehat. Terlalu menolak atau mendukung seseorang atau sesuatu itu kurang baik. Adil lah kira kira dalam memberi penilaian. Ada tokoh yang paling saya suka yang hidup di masa junjungan saya Rasulullah SAW, yaitu Abu Ubaidah Ibn' Jarrah. Saya lupa pernah baca dibuku atau artikel apa tapi saat Abu Ubaidah membagikan zakat, kepada non muslim beliau mengatakan "kebencian aku kepada kalian tidak menjadikan aku berlaku tidak adil dalam pembagian zakat ini" sedangkan kepada kaum muslimin beliau mengatakan "kecintaan aku kepada kalian tidak menjadikan aku melebihkan pembagian zakat ini". Menurut saya ini luar biasa. Penilaian yang adil, memberi keputusan yang adil, bersikap adil sepertinya masih jauh sekali dari sifat saya dan mungkin juga kita.

Ini hanya perkiraan, apakah manusia sulit berlaku adil karena terikat dengan suatu kepentingan sehingga kritik atau pujian yang dilontarkan sampai melampaui batas? Entahlah. Sesungguhnya salah satu jenis atau karakter yang dibenci setan adalah pemimpin yang adil. Bagaimana memunculkan pemimpin yang adil? Mulai adil terhadap diri sendiri dan orang lain dalam memberi penilaian. Terlalu memuji atau merendahkan diri sendiri juga tidak bagus

Ah, adil memang susah :)

Comments

Popular posts from this blog

Orang orang yang saya temui

Beberapa bulan tinggal di belahan dunia yang lain, memungkinkan saya bertemu dengan orang orang baru yang sebelumnya tidak saya kenal. Ada beberapa yang menarik contohnya ketika saya jalan jalan ke pusat kotanya Bratislava (saya cinta kota ini, orang orang yang saya temui ramah), saya ditegur oleh seorang biarawati dengan sangat ramah dan bertanya saya dari mana. Setelah mengetahui saya dari Indonesia, beliau pun mengatakan mereka memiliki biarawati (sisters) di Indonesia tepatnya di sekitaran Papua dan NTT. Saya katakan saya berasal dari Aceh dan anda harus mengunjungi Indonesia. “Sangat indah” puji saya. Kemudian beliau dan teman temannya memberi informasi lokasi apa saja yang bisa dikunjungi karena ini kota kecil jadi tempat yang menarik pun bisa dijangkau dengan berjalan kaki.   Di lain waktu, saya disapa “Hallo” oleh seorang anak laki laki yang saya takar umurnya 16 tahunan. Sapaan itu begitu keras hingga membuat saya terkejut sekaligus tersenyum. Di kota saya sendi...

BEBEK BEBEK PERKASA

Begini bahagianya kalau rumah kos dekat sungai, pulang dari kampus atau habis belanja kaki ini disempat sempatkan untuk melihat air sungai yang cukup bersih bersama dengan burung burung yang terkadang senang berjalan jalan disisian sungai atau bebek bebek perkasa yang dengan antengnya berjalan jalan di atas sungai sambil mengibas ngibaskan bulunya. Beuh! Liatnya bikin gondok teman! Kalau dibilang tersungging sama bebek siy engga ya, cuma daya tahan bulunya itu loh dengan air yang udah pasti super duper dingin eh terus malah enak enakan berendam. Situ nyinggung harga diri saya sebagai makhluk yang ga begitu tahan dengan udara atau cuaca dingin. Wong pernah mandi di pemandian Mata Ie aja sempat klepek klepek :D. Pernah saya diberitahu kalau sebenarnya manusia itu adalah yang paling lemah dibanding species lainnya dimana hewan hewan sudah diciptakan dengan pelindung (bulu, kulit yang lebih tebal atau duri) untuk melindungi tubuhnya. Kelebihan manusia adalah adanya akal yang bisa meng...

Ayah sang pengantin

Siapa yang masih mengingat aktor lawas Holywood, Steve Martin yang pernah bermain dalam film The Pink Panther sebagai detektif konyol nan lucu Inspektur Jacques Cousteau. Tapi kali ini saya ingin menceritakan salah satu film favorit saya yang dibintangi Steve yaitu Father of the Bride. Pertama kalinya saya melihat film itu dimalam lebaran ketika saya masih belasan tahun, hehehe. Dengan list tugas yang menumpuk (ritual tahunan sebelum menyambut lebaran Idul Fitri) dan rasa kantuk yang tidak tertahan rasanya, film Steve Martin menjadi penyelamat dan penyemangat saya untuk bekerja :D. Dalam film ini Steve berperan menjadi seorang ayah (George Banks) yang menyayangi keluarga terutama putri sulungnya. Sekian tahun kuliah di luar negeri kemudian pulang ke rumah dan membawa kejutan bagi ayahnya yang merubah kelakuan ayahnya menjadi menjengkelkan. Saya ingat ketika Kimberly Williams yang berperan menjadi Annie Banks, anak perempuan yang paling disayangi ayahnya memberi kabar bahwa ia akan me...