Saya menyukai kereta api sejak mengikuti sebuah pelatihan selama 6 bulan di Jakarta. Waktu itu saya menyempatkan diri mengunjungi salah seorang kerabat di Bogor dengan menggunakan commuter line dengan jarak tempuh 2 jam. Pengalaman yang seru (terutama ketika CL lagi kosong). Awalnya saya ditemani oleh abang saya tapi lama kelamaan saya memberanikan diri ke Buittenzorg atau mengelilingi seputaran Jakarta (paling banter ke mangga dua, hehehe) dan ternyata dengan CL, perjalanan jadi lebih praktis dan cepat.
Memang saya belum
pernah naik kereta dengan jurusan yang lebih jauh seperti Jakarta
Jogja/Surabaya, menikmati pemandangan sawah sawah yang hijau yang menyegarkan
mata. Wah, membayangkan saja rasanya indah dan bakal memperoleh banyak inspirasi untuk menulis.
Saat itu saya belum
mengenal sosok yang merubah kereta api Indonesia menjadi perusahaan profesional
(dibuktikan dengan banyaknya penghargaan2 yang diterima semasa beliau menjabat menjadi Dirut)
dan semoga kelak menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Dialah Ignasius Jonan.
Dalam pandangan saya, beliau orang yang bertangan dingin yang kurang dalam
setahun mampu mencetak laba, membalikkan perusahaan negara yang sudah rugi di tahun tahun sebelumnya menjadi untung dan berfokus kepada pelanggan (customer/people oriented). Well, saya akan
menulis tentang beliau secara khusus di tulisan selanjutnya mengenai leadership
beliau di KAI dan kesan saya setelah membaca buku tersebut.
Kembali lagi mengenai
kereta api, beberapa kota sudah saya singgahi dengan Regional Express ataupun
ICE (baru dua kali), salah satu kereta cepat di Eropa. Awal awal saya juga
kebingungan dengan sistem disini (sampai sekarang pun masih) namun sedikit
banyak saya memahami bagaimana membeli tiket, membaca peron dan jadwal
keberangkatan (terutama kalau keretanya umsteigen) dan menikmati pemandangan
hamparan bunga matahari, rumah rumah bergaya Eropa dan yang paling saya sukai
adalah melihat pembangkit listrik tenaga angin. Ada sesuatu yang menarik
perhatian saya, yaitu pada ketinggiannya, baling balingnya dan bagaimana pembangkit
itu beroperasi. Hehehe, semoga ada yang mau mengajak dan menjelaskan kepada saya bagaimana
cara pembangkit itu beroperasi.
Hal hal menarik lainnya
adalah bermacam macam orang dari berbagai suku bangsa yang saya temui dan
segala polah tingkah laku mereka. Misalnya ketika saya pulang dari Muenchen,
ada seorang perempuan berjilbab dengan tiga anak dengan penampilan yang
menyedihkan, kusam dan kumal. Si Ibu mengenakan gamis lusuh dan dibagian
ketiaknya ada robekan.Tiga anaknya memakai baju seadanya dan bahkan tidak
mengenakan sandal/sepatu dan terus terusan merengek. Berbagai prasangka muncul
di kepala saya dan tentunya juga perasaan kasihan/iba.
Atau ketika saya pulang liburan bersama teman teman saya melihat seorang pemuda dengan kelelahan dan tidur dengan pakaian yang menutupi seluruh tubunya seperti beruang (berbulu). Saya tentu saja tertawa, terlebih lagi ketika anjingnya (yang melompat lompat) dengan gembira menjemput di stasiun. Sungguh adegan yang tidak terlupakan.
Atau ketika saya pulang liburan bersama teman teman saya melihat seorang pemuda dengan kelelahan dan tidur dengan pakaian yang menutupi seluruh tubunya seperti beruang (berbulu). Saya tentu saja tertawa, terlebih lagi ketika anjingnya (yang melompat lompat) dengan gembira menjemput di stasiun. Sungguh adegan yang tidak terlupakan.
Hal yang menyebalkan
adalah ketika banyaknya persinggahan dengan jeda waktu yang sempit sehingga
saya sebagai penumpang harus berlari dari platform satu ke platform lainnya. Sangat
menyebalkan! Berlari lari seperti dikejar setan dan jantung ini rasanya copot dan kehilangan nafas (T_T). Sudah dua kali saya merasakannya dan semoga menjadi kejadian terakhir.
Kejadian menyebalkan lainnya adalah ketika saya pulang dari Muenchen untuk mengurus sesuatu dan sampai di Hof sudah larut malam dan tidak ada lagi bis yang beroperasi. Memikirkan naik taksi sunggulah mahal dan sebagai anak kos dan mahasiswa berjalan adalah solusi yang terbaik walaupun idung meler dan badan menggigil sepanjang perjalanan ke rumah.
Namun kalau ditanya apa pengalaman berkesan selama tinggal di jantung Eropa, saya tak ragu menyebut "Naik kereta api, tut, tut,tut..."
Kejadian menyebalkan lainnya adalah ketika saya pulang dari Muenchen untuk mengurus sesuatu dan sampai di Hof sudah larut malam dan tidak ada lagi bis yang beroperasi. Memikirkan naik taksi sunggulah mahal dan sebagai anak kos dan mahasiswa berjalan adalah solusi yang terbaik walaupun idung meler dan badan menggigil sepanjang perjalanan ke rumah.
Namun kalau ditanya apa pengalaman berkesan selama tinggal di jantung Eropa, saya tak ragu menyebut "Naik kereta api, tut, tut,tut..."

Comments
Post a Comment