Skip to main content

RUMAH KU KEBAHAGIAAN KU


 




Kalau mengingat rumah rasanya seperti menemukan diri saya kembali, ya karena saya dan rumah seperti pasangan suami istri yang tidak dapat dipisahkan. 

Terutama sejak saya melanjutkan kuliah di benua yang berbeda, saya jadi tau bagaimana perasaan saya terhadap rumah dan penghuni didalamnya yaitu ibu saya, abang saya dan juga kucing peliharaan saya yang bernama Jon Gendut, walaupun sekarang kami juga memiliki dua anak kucing betina yang menggemaskan yang diberi nama Brownie dan Hollie. Dan Hollie telah mati atau diculik, padahal bulunya yang putih dan merupakan campuran anggora sungguh kucing yang lucu, bersemangat dan menyenangkan kami sekeluarga. Hiks, namun  masih ada Brownie yang “hanya” kucing lokal dengan bulunya yang berwarna kuning namun rakus tapi sangat lincah dengan ekor panjang yang lurus, ini merupakan rekor karena selama saya memelihara kucing, baru Brownie yang memilikinya.

Sebelum saya merantau, rumah adalah pusat segala aktivitas keseharian saya, dimulai pagi hari dengan menyiapkan sarapan buat keluarga sambil berbincang bincang ringan sebelum masing masing akan beraktivitas di hari tersebut. Karena saya menjalankan bisnis kecil kecilan, maka saya biasanya berada di rumah dan menyiapkan makan siang, membersihkan rumah, mengecek email, mengganggu kucing tidur atau melakukan hobi baru seperti berkebun ataupun merajut. Seluruh kegiatan aktivitas berlangsung cukup lama dan saya menikmatinya. Rumah adalah pusat kebahagiaan, dimana saya bertukar pikiran dengan ibu dan abang saya secara rutin entah itu tentang politik di kampung kami atau dalam ruang lingkup yang lebih luas, Indonesia. Anehnya, walaupun cara pandang kami yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Misalnya saya dan abang saya tidak menyukai namanya kepopuleran atau apapun setiap kegiatan atau boleh lah dikatakan prestasi yang kami hasilkan tidak perlu dibesar besarkan atau diungkapkan ke orang lain. Begitu juga ketika menghadapi masalah sehingga dalam pandangan orang kami memiliki kehidupan yang begitu datar atau biasa biasa saja. 

Namun bagi kami hal itu adalah biasa dan  juga tidak peduli. Contoh lain ketika beberapa teman dan tetangga kami memiliki mobil atau motor lebih dari dua, smartphone terbaru maupun tv plasma yang canggih, membangun rumah berlantai dua atau meninggikan bangunannya, kami malah cuek dan menganggap itu adalah hal yang biasa dan tidak menjadikannya beban yang membuat kami harus menyaingi mereka. Walaupun abang saya tidak pernah mengucapkannya, namun prinsip nya dengan saya lumayan sama, artinya kami puas dengan dengan handphone biasa yang cuma seharga sejutaan, motor yang standar dan tv biasa tanpa perlu layar datar toh semuanya juga memiliki fungsi yang sama. Smartphone biasa dengan yang canggih punya fitur fitur dasar seperti bisa mengirimkan sms, menelpon, browsing, menyimpan catatan, mendengarkan radio juga kamera untuk mengabadikan objek, momen atau apapun itu. Sama halnya seperti seperti tv yang bisa digunakan untuk menonton betapapun itu merk yang tidak terkenal atau varian lama, maupun motor untuk mempersempit jarak dan menghemat waktu bila bepergian. Terkadang ibu saya suka heran, apa kami berdua tidak memiliki keinginan seperti orang lainnya karena dilihat kurang semangat dalam mengejar sesuatu. Yah, walaupun saya cukup ambisius namun sekarang agak berkurang disebabkan sering pusing dan sakit kepala, hehehe. 

Saya juga jadi teringat momen ketika lebaran beberapa tahun lalu dimana setiap keluarga di Aceh akan menyambut hari suci dengan sangat gembira sehingga semuanya baik dari perabotan rumah, baju yang dikenakan haruslah baru dan itu berlaku untuk ibu saya. Beliau menanyakan apakah kami berdua tidak ingin membeli baju baru (ibu selalu berkilah karena lebaran beliau akan membelikan kami baju) dan saya menggoda abang saya agar tahun ini uangnya untuk abang saja dan ternyata abang saya juga melakukan yang sama sehingga akhirnya ibu hanya geleng geleng kepala melihat tingkah kami. Kami cukup puas dengan baju lebaran yang kami beli sendiri tahun kemarin dan tidak terbersit membeli pakaian baru walaupun kami memiliki dana yang cukup untuk mengikuti mode terbaru. Hal hal kecil seperti ini yang membuat rumah saya seperti kepingan surga yang jatuh dari langit. 

Selain itu kami berdua adalah fans berat (ultras) masakan rumah (homemade) walaupun ada banyak masakan luar baik nasional atau internasional yang tersedia dengan harga yang terjangkau. Kebetulan juga ibu saya sangat jago memasak dengan banyak variasinya jadi kami anak anaknya jarang bosan. Ada cerita lucu yang diceritakan oleh ibu saya dimana ketika ayah masih hidup dan bekerja, ayah membanggakan keahlian ibu yang mengolah tempe menjadi 12 jenis variasi mulai dari bacem, tempe sambalado, kering tempe dan lain lain yang membuat rekan kerja ayah terbengong bengong dan menanyakan bagaimana caranya mengolah tempe menjadi berbagai macam masakan, hehehe. Nah, sekarang berkat merantau ke negara lain saya juga jadi mahir memasak terutama kalau menyangkut kek (cake) atau puding. Salah satu berkahnya adalah dimasa ekonomi yang serba sulit dan krisis ini, memasak di rumah lebih hemat dan mengurangi biaya makan di luar yang ternyata banyak menyedot uang kas bulanan. Saya juga menularkan kebiasaan untuk mengurangi daging kambing, sapi, maupun ayam dan lebih banyak mengkonsumsi buah buahan dan sayur sayuran seperti layaknya seorang vegetarian.

Rumah bagi saya juga tidak hanya sebagai tempat berkumpul bersama keluarga tercinta, namun juga sebagai sekolah dasar, tempat kami menerima bekal untuk memulai perjalanan setelah tamat sekolah. Dengan ibu kami yang sangat sangat tegar dalam menghadapi berbagai masalah namun tetap menanamkan sopan santun terutama terhadap orang yang lebih tua, membantu orang orang yang membutuhkan membuat kami kedua anaknya tumbuh dengan sikap dan karakter yang kuat, menjunjung etika dan sopan santun. Saya berpikir ini adalah dasar yang penting yang wajib ditanamkan sejak dini di diri anak anak sehingga nilai nilai kebaikan, moral akan mengakar dan terimplementasikan ketika anak itu tumbuh dewasa. 

Selain itu rumah juga menjadi tempat mendiskusikan segala permasalahan dimana menumbuhkan rasa saling percaya dan saling membantu antara anggota keluarga. Dalam beberapa kali kesempatan ibu saya selalu mengingatkan kalau kami hanya dua bersaudara dan ketika kalian berkeluarga kelak jangan lupakan atau bila menemui masalah bertemu lah berdua dan bicarakan. Jangan terpengaruh dengan kata kata suami/istri pasangan kami.
Bagi saya dan abang, itu adalah nasihat yang luar biasa dimana ibu saya menginginkan apapun yang terjadi kami berdua tetap harus kompak dan saling percaya.

Ada cerita yang menarik yang saya ingat ketika saya masih kecil dulu dimana karena kami hanya dua bersaudara jadi apapun masalah bisa menyulut pertengkaran dan akhirnya karena saya si bungsu sayalah yang kalah dan akan menangis keras keras. Kalau sudah begitu biasanya ibu akan memanggil kami berdua (kadang kadang dipaksa) dan beliau akan bercerita tentang seorang single parent atau janda yang hidup di suatu desa yang terpencil dengan dua anak anaknya yang sangat bandel. Pekerjaan janda itu adalah pencari kayu bakar dan mereka hidup sangat sederhana. Tiba tiba saya menyeletuk "bukannya itu kisah kami berdua, mak..". Jawaban saya yang polos membuat ibu dan abang saya tertawa dan akhirnya kami berhenti bertengkar untuk sementara. Hehehe..

Untuk tabloid Nova dan ulang tahun ke 28 nya NOVAVERSARY, ibu saya sendiri telah lama berlangganan dan kami sering membicarakan kolom curhat yang diasuh ibu Rienny dan membahasnya. Dimana pelajarannya bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini tidak ada masalah dan mengetahui bahwa ada orang di luar sana memiliki masalah membuat kami sadar tidak ada orang yang bebas dari masalah dan terkadang masalah membuat manusia menjadi lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Terima kasih Nova.

Terbukti diskusi antara kami bertiga itu berguna ketika abang maupun saya mengalami masalah masalah yang terjadi dalam kehidupan kami, kami saling menguatkan dan introspeksi diri kemudian berbenah diri agar bisa menyongsong hidup ke depan yang lebih baik. Walaupun sejak kecil kami selalu bertengkar hebat dan tidak pernah cocok namun sekarang kok jadi kebalikannya ya.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa menciptakan kebahagiaan di rumah sangat sederhana, hanya diperlukan komunikasi yang terbuka dan jujur antara orang tua dan anak, membiasakan melakukan kegiatan kegiatan seperti shalat berjamaah bersama di rumah, makan pagi dan malam bersama sehingga kebersamaan menjadi hal yang biasa namun memberi makna indahnya kebersamaan dan kelekatan antara anggota keluarga dan itulah yang saya rasakan hingga sekarang dan kemanapun kaki saya melangkah, saya selalu merindukan rumah, penghuninya dan kebahagiaan yang tercipta di dalamnya. Home is my happiest place on the earth.

Comments

Popular posts from this blog

Orang orang yang saya temui

Beberapa bulan tinggal di belahan dunia yang lain, memungkinkan saya bertemu dengan orang orang baru yang sebelumnya tidak saya kenal. Ada beberapa yang menarik contohnya ketika saya jalan jalan ke pusat kotanya Bratislava (saya cinta kota ini, orang orang yang saya temui ramah), saya ditegur oleh seorang biarawati dengan sangat ramah dan bertanya saya dari mana. Setelah mengetahui saya dari Indonesia, beliau pun mengatakan mereka memiliki biarawati (sisters) di Indonesia tepatnya di sekitaran Papua dan NTT. Saya katakan saya berasal dari Aceh dan anda harus mengunjungi Indonesia. “Sangat indah” puji saya. Kemudian beliau dan teman temannya memberi informasi lokasi apa saja yang bisa dikunjungi karena ini kota kecil jadi tempat yang menarik pun bisa dijangkau dengan berjalan kaki.   Di lain waktu, saya disapa “Hallo” oleh seorang anak laki laki yang saya takar umurnya 16 tahunan. Sapaan itu begitu keras hingga membuat saya terkejut sekaligus tersenyum. Di kota saya sendi...

BEBEK BEBEK PERKASA

Begini bahagianya kalau rumah kos dekat sungai, pulang dari kampus atau habis belanja kaki ini disempat sempatkan untuk melihat air sungai yang cukup bersih bersama dengan burung burung yang terkadang senang berjalan jalan disisian sungai atau bebek bebek perkasa yang dengan antengnya berjalan jalan di atas sungai sambil mengibas ngibaskan bulunya. Beuh! Liatnya bikin gondok teman! Kalau dibilang tersungging sama bebek siy engga ya, cuma daya tahan bulunya itu loh dengan air yang udah pasti super duper dingin eh terus malah enak enakan berendam. Situ nyinggung harga diri saya sebagai makhluk yang ga begitu tahan dengan udara atau cuaca dingin. Wong pernah mandi di pemandian Mata Ie aja sempat klepek klepek :D. Pernah saya diberitahu kalau sebenarnya manusia itu adalah yang paling lemah dibanding species lainnya dimana hewan hewan sudah diciptakan dengan pelindung (bulu, kulit yang lebih tebal atau duri) untuk melindungi tubuhnya. Kelebihan manusia adalah adanya akal yang bisa meng...

Ayah sang pengantin

Siapa yang masih mengingat aktor lawas Holywood, Steve Martin yang pernah bermain dalam film The Pink Panther sebagai detektif konyol nan lucu Inspektur Jacques Cousteau. Tapi kali ini saya ingin menceritakan salah satu film favorit saya yang dibintangi Steve yaitu Father of the Bride. Pertama kalinya saya melihat film itu dimalam lebaran ketika saya masih belasan tahun, hehehe. Dengan list tugas yang menumpuk (ritual tahunan sebelum menyambut lebaran Idul Fitri) dan rasa kantuk yang tidak tertahan rasanya, film Steve Martin menjadi penyelamat dan penyemangat saya untuk bekerja :D. Dalam film ini Steve berperan menjadi seorang ayah (George Banks) yang menyayangi keluarga terutama putri sulungnya. Sekian tahun kuliah di luar negeri kemudian pulang ke rumah dan membawa kejutan bagi ayahnya yang merubah kelakuan ayahnya menjadi menjengkelkan. Saya ingat ketika Kimberly Williams yang berperan menjadi Annie Banks, anak perempuan yang paling disayangi ayahnya memberi kabar bahwa ia akan me...