Mencoba
jujur, sebenarnya sebagai penikmat film aku merasa kecewa dan bahkan
hampir mendekati enek melihat tontonan di Indonesia khususnya sinetron.
Belum lagi jadwal yang full senin sampai jum'at dan di putar di prime
time. Sinetron indonesia hampir rata2 punya ide cerita yang sama, ending
yang mudah ditebak, karakter pemain yang kurang atau bahkan
tidak kuat dan mempesona. Pengalaman tadi malam, rencana mau menikmati
film Four Brothers, harus nunggu sampai jam setengah sebelas gara2
Putri yang tertukar, lanjut dengan Kemilau Cinta Kamila 2 *pukul2 kepala
ndiri*...Dan, karena tidak tahan, mending baca buku or ambil laptop dan
mulai berselancar sampai ketiduran. Mengapa dunia hiburan indonesia
seperti kehilangan ide untuk menggali ide2 cerita yang lebih menarik dan
memberikan suatu makna kepada penontonnya. Bukankah mereka memiliki
sedikit tanggung jawab. Tidak mengertikah mereka berapa besar peran
televisi untuk mempengaruhi sesuatu atau seseorang.
Kalau
melihat film layar lebar, ada sedikit kebanggan bahwa ternyata hasil
nya jauh lebih memuaskan dibanding televisi. Film2 seperti Laskar
Pelangi, Sang Pencerah, Ayat2 Cinta, Kiamat Sudah Dekat, Alangkah
Lucunya Negeri Ini cukup memuaskan. Ada makna yang terkandung dalam film
tersebut, ada moral of the story lah yang bisa diambil tergantung dari
sudut pandang si penikmat film.
Yang menarik, akhir-akhir ini aku
sedikit tepengaruh dengan teman yang maniak film korea yang katanya bagus bgt.
Buat termehek-mehek gitu. Awalnya sempat meremehkan. Aku kan penggemar
film2 barat. Padahal dulunya pernah nonton full episode Endless
Love...Film korea yang benar2 menyihir ku, membuat aku benar2 menangis
dan bisa mengambil makna dari film ini. Pemain2 nya juga tidak sekedar
keren dan cantik, tapi juga menampilkan kemampuan akting yang mumpuni.
Dan,
gara2 provokator seorang teman, akhirnya aku membeli dua dvd film
korea. Judulnya Still Marry Me and Personal Taste. Baru nonton yang
pertama. Dari gambaran singkatnya cerita ini menarik. Kenapa? Mengangkat
problema masalah wanita karir sukses berusia 30 tahunan tapi belum
menikah, kemudian menjadi masalah ketika hal ini terus menerus menjadi
pertanyaan kolega di kantor atau keluarga. Hahay!! Mulai tertarik dan
kemudian menonton yang ternyata sangat menyita waktu. Satu dvd berisikan
tiga keping yang masing2 keping fuuihhhh, memakan waktu berjam-jam.
Jadi kebayang kan nontonnya, mirip film india yang diputar sekaligus
tiga film...Halah..Puyeng jadinya. Nah, dalam film korea itu memang
dipasang satu bintang muda yang keren Kim Bum..Alahmak!!!Meleleh liat
senyumnya itu, caranya dia mencintai seorang wanita...Hayhay :)..
Balik
lagi ke ceritanya, jadi tiga orang wanita sukses dalam karir, cantik,
namun belum menikah. Yang pertama Boo Ki, wanita pengusaha sukses.
Trauma karena ketika menikah hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga
dan tidak diberikan kebebasan membuatnya berfikir ulang, harus menjadi
wanita mandiri, berani, cantik dan tidak menikah. Cukup hanya sekali
saja. Dan, memang Boo Ki menjadi tumpuan saat kedua temannya menghadapi
masalah. Wanita yang kedua bernama Da Jung, seorang translater
profesional. Menurutku, ini tipe yang paling banyak ada. Cantik, sukses,
untuk urusan jodoh maunya yang perfect. Keren, kaya, karir oke,
romantis, pehatian. OMG!!! Kalau kata seorang dosen ku, itu nunggu
kiamat aja :D...Paling mudah mengeluh kalau ada masalah. Nah, yang
terakhir Shin Young, jurnalis di sebuah televisi. Cantik, pintar, baik
namun kurang beruntung masalah cinta dan hampir tidak percaya yang
namanya cinta. Singkat cerita, karena bisa berhalaman nantinya^^...Kim
Bum, yang berperan sebagai mahasiswa musik disini jatuh cinta dengan
Shin Young gara2 sebuah insiden (kalau mau tahu, beli dvd nya :D).
Awalnya, Shin Young tidak menanggapi karena perbedaan umur yang
terlampau jauh namun usaha-usaha Kim Bum sebagai Min Jae ini luar biasa,
sehingga dia bisa mengimbangi perbedaan usia 10 tahun ini dengan
ciamik. Dan menjadi menarik perbedaan umur inilah yang menjadi konflik
diantara mereka berdua, dan pada kenyataannya memang seperti itu bila
pasangan pria anda lebih muda. Banyak pertentangannya. Dan inilah yang
ditampilkan dalam film ini, bagaimana cara mengatasinya, intrik2 nya.
Dan, Min Jae ini, walaupun muda tapi koq bawaannya sangat dewasa ya, dan
(yang hampir semua diidamkan oleh wanita), Min Jae hanya setia pada
satu wanita, Shin Young. Walaupun ada hambatan, tantangan dan godaan
tetap dia tidak berpaling. Nah, sedikit berbeda kan dengan sinetron
Indonesia. Masalah2 lain juga diekspos seperti Da Jung mengompori
teman2nya untuk ikut ritual kepercayaan agar bisa mendatangkan jodoh,
mungkin ini mah udah titik nadir kali ya, hehehehe..Atau mantan pacar
Shin Young yang benar2 merasakan cinta namun ke orang yang dalam posisi
yang kurang tepat yaitu Ibunya Min Jae. Bagaimana sang ibu menentang
habis-habisan namun Min Jae tetap bersikap sopan kepada ibunya sama
seperti Shin Young yang tetap menghargai Ibu Min Jae. Dan bagaimana dia
berada di posisi yang sama kemudian bisa merasakan apa yang dirasakan
Shin Young. Wah, banyak laa bedanya dengan sinetron indonesia.
Yang
aku suka, terutama wanita umumnya, style or baju baju yang mereka pakai
sehari hari selalu up to date. Dan, seperti yang diketahui bahwa jepang
dan korea menjadi trendsetter fashion untuk saat ini. Dan menjadi lebih
menarik mereka bisa menampilkan keunggulan mereka dalam film2 tersebut.
Dulu, entah dimana aku pernah mendengar ucapan seperti ini " Lihat lah
film india..Mereka tidak hanya menjual film, tapi mereka menjual budaya,
mereka menjual lagu dan lihatlah Fenomena Kuch Kuch Hota He (bener ga
ya nulisnya ;)...Aku aja ampe hafal tu lagu saking populernya beberapa
tahun yang lalu atau coba liat film 3 Idiots, sebuah sindiran terhadap
sistem pendidikan di India yang mengutamakan hasil bukan proses atau
pemahaman terhadap suatu ilmu atau kecintaan terhadap proses belajar.
Film2
yang masih menghargai budaya mereka sendiri justru lebih dihargai dan
tidak kalah secara komersil. Tentu masih ingat dengan film Laskar
Pelangi. Mengangkat tema impian seorang bujang dari Bangka Belitung,
penuh dengan keceriaan, semangat dan ada lagu2 melayu nya yang sungguh,
amboi membuai telinga.
Kembali ke sinetron indonesia, sungguh dulu
masih ada Keluarga Cemara, Mat Angin (ne film kocak abis, pemainnya
juga oke, maknanya ada dan pemenang FSI Tahun 1997 dan 1998 untuk
beberapa kategori. Sayang, ga pernah di putar ulang ;(.
Nah, untuk
film2 korea mereka juga mampu menarik para turis untuk menikmati
pariwisata mereka, isn't great? Pada film Indonesia aku melihat hasilnya
di Laskar Pelangi. Mungkin, perbandingan sinetron dan film korea tidak
sebanding, tapi ada juga seperti FTV dan aku yang menonton juga sama
saja seperti sinetron...Entah dimana yang salah. Ada kebosanan dan
kejenuhan disitu, bosan dengan akting seadanya, dengan tema itu2 aja,
memaki-maki, wah banyak lah kekurangannya.
Dan, sebagai
kesimpulan dan harapan ku sebagai pecinta film, tolonglah para pihak
yang terlibat dalam sinetron itu jangan terlalu memikirkan materi,
pikirkan juga dampak nya, carilah tema tema yang lebih menarik dan
mendidik, dan bila televisi juga belum bisa menayangkan acara2 yang
bermutu, matikan saja teve anda dan mulailah membaca :)...
#tulisanlamayangdipostkembali
Comments
Post a Comment