Skip to main content

Frankfurt Book Fair

FBF 2015
Well, ternyata kalau murah itu banyak berhentinya ya...Apa maksud? Gini loh, saya kan berniat ke pameran buku di Frankfurt dan karena antara ragu pergi atau tidak, akhirnya saya tidak bisa membeli tiket pergi ke Frankfurt karena sudah keburu naik alias mahal dan jadilah saya menggunakan jasa Meinfernbus dan berangkat pada Sabtu sore, sehari sebelum penutupan FBF.

Ternyata oh ternyata dari Hof menuju ke Regensburg hanya memakan waktu 2 jam lebih dan selebihnya saya harus menunggu selama 3 jam menunggu bus yang akan mengantar saya sampai Frankfurt am Main Hbf. Oke, sampai disini tidak ada masalah karena saya sudah mengisi perut dengan nasi plus daging goreng kemudian sebagai snack saya menyiapkan keripik kentang, biskuit cokelat dan roti. Aman.

FBF dari masa ke masa
Nah, sebelum jam 11 saya sudah menunggu di halte dan dengan udara yang dingin menusuk tulang tulang eh bus nya malah molor 15 menitan dan dengan kondisi cuaca yang sangat tidak kondusif, lima belas menit itu serasa seabad dengan perut yang mulai sedikit lapar...Akhirnya setelah berdingin dingin ria busnya pun datang dan saya berusaha tidur walaupun efek kopi yang saya minum di stasiun Regensburg mulai bekerja.

Nah, ketika jam sudah menunjukkan setengah lima pagi saya sampai di Frankfurt am Main Hbf dan udara begitu dingin dan sepi. Tidak ada tempat makan yang buka kecuali McDonald yang antriannya lumayan panjang dan sedikit jorok, pegawainnya yang kelelahan dan yang utama makanannya yang tidak halal kecuali kentang goreng dan roti, hikhiks. Saya memilih sandwich di salah satu counter makanan dengan cokelat panas yang lumayan mahal namun tidak mengenyangkan.

Untuk membunuh waktu (pameran baru dibuka jam 9 dan check in hotel jam 2 siang), saya berjalan jalan seperti gasing kemudian "menganggu" teman saya via bbm call dan menggunakan kamar mandi berbayar untuk berdandan menunggu jam 9.

Keletihan dan perjalanan yang lumayan panjang terbayar dengan melihat gedung yang digunakan untuk pameran buku ini sangat besar dengan antrian yang lumayan panjang. Banyak orang orang berdatangan dari kota maupun negara lain untuk mengunjungi pameran buku terbesar di dunia ini. Saya, walaupun memiliki peta, mengikuti langkah kaki saja dan menuju ke hall buku buku anak, novel dan sebangsanya. Saya pun kagum dan tak henti hentinya mengambil foto seperti anak kampung.
Stand Mangas

Heidi




Bangku unik buat duduk

Buku buku dijejerkan dengan rapi dan bersih, ada stand yang menawarkan permainan mengambil boneka, dan orang orang antusias mengantri untuk mencobanya. Ada miniatur Empire State Buildings...Tersedia juga mini cafe bila lelah untuk sekedar minum kopi dan mencoba sepotong roti.
 
Membacakan cerita
Dan yang menarik minat saya adalah berkumpulnya para pecinta buku di beberapa stand (ada yang menawarkan bangku dengan desain yang unik), mendengarkan pengarang sebuah buku menjelaskan bukunya atau bercerita bahkan membaca buku yang ia tulis kepada pendengar. Ini adalah sesuatu yang unik. Kebanyakan di negara saya kalau ada artis luar negeri yang datang dan hanya ngomong sebentar, nah itu bakal rame, desak desakan dan dengan penuh kosentrasi ketika artis tersebut berbicara.


Saya sangat suka atmosfir pameran buku di Frankfurt ini dan seperti menemukan "wonderland" bagi pecinta buku seperti saya ini dan tak hendak beranjak pergi. Namun menjelang siang perut saya mulai keroncongan dan hampir pingsan mencari makanan Indonesia (mondar mandir ga ketemu) akhirnya saya makan nasi plus ayam dan sayur di counter makanan Turki. Walaupun mahal (hikshiks) tapi membuat saya segar kembali dan sebagai bonus saya bertemu dan berbincang banyak hal dengan Inggrid, wanita paruh baya yang berasal dari Tirol, Austria yang juga menyukai nasi namun tanpa daging, hehehe.

Setelah lima jam berputar putar, akhirnya energi saya terkuras dan mau tidak mau saya harus ke hotel untuk mandi dan beristirahat. Tepar sampai besoknya dan tidak sempat balik ke pameran.

Bonusnya, saya ketemu dengan mbak Trinity (itu tuh yang ngarang buku A Naked Traveler) di hotel yang sepanjang malam batuk batuk dan bolak balik ke kamar mandi,  dan menduga orang Aceh itu mirip orang Suriname! Sialan! :D.

Well, perjalanan yang singkat namun memuaskan. Alhamdulillah ya ALLAH :)


Hof, 21 Oktober 2015

Comments

Popular posts from this blog

Orang orang yang saya temui

Beberapa bulan tinggal di belahan dunia yang lain, memungkinkan saya bertemu dengan orang orang baru yang sebelumnya tidak saya kenal. Ada beberapa yang menarik contohnya ketika saya jalan jalan ke pusat kotanya Bratislava (saya cinta kota ini, orang orang yang saya temui ramah), saya ditegur oleh seorang biarawati dengan sangat ramah dan bertanya saya dari mana. Setelah mengetahui saya dari Indonesia, beliau pun mengatakan mereka memiliki biarawati (sisters) di Indonesia tepatnya di sekitaran Papua dan NTT. Saya katakan saya berasal dari Aceh dan anda harus mengunjungi Indonesia. “Sangat indah” puji saya. Kemudian beliau dan teman temannya memberi informasi lokasi apa saja yang bisa dikunjungi karena ini kota kecil jadi tempat yang menarik pun bisa dijangkau dengan berjalan kaki.   Di lain waktu, saya disapa “Hallo” oleh seorang anak laki laki yang saya takar umurnya 16 tahunan. Sapaan itu begitu keras hingga membuat saya terkejut sekaligus tersenyum. Di kota saya sendi...

BEBEK BEBEK PERKASA

Begini bahagianya kalau rumah kos dekat sungai, pulang dari kampus atau habis belanja kaki ini disempat sempatkan untuk melihat air sungai yang cukup bersih bersama dengan burung burung yang terkadang senang berjalan jalan disisian sungai atau bebek bebek perkasa yang dengan antengnya berjalan jalan di atas sungai sambil mengibas ngibaskan bulunya. Beuh! Liatnya bikin gondok teman! Kalau dibilang tersungging sama bebek siy engga ya, cuma daya tahan bulunya itu loh dengan air yang udah pasti super duper dingin eh terus malah enak enakan berendam. Situ nyinggung harga diri saya sebagai makhluk yang ga begitu tahan dengan udara atau cuaca dingin. Wong pernah mandi di pemandian Mata Ie aja sempat klepek klepek :D. Pernah saya diberitahu kalau sebenarnya manusia itu adalah yang paling lemah dibanding species lainnya dimana hewan hewan sudah diciptakan dengan pelindung (bulu, kulit yang lebih tebal atau duri) untuk melindungi tubuhnya. Kelebihan manusia adalah adanya akal yang bisa meng...

Ayah sang pengantin

Siapa yang masih mengingat aktor lawas Holywood, Steve Martin yang pernah bermain dalam film The Pink Panther sebagai detektif konyol nan lucu Inspektur Jacques Cousteau. Tapi kali ini saya ingin menceritakan salah satu film favorit saya yang dibintangi Steve yaitu Father of the Bride. Pertama kalinya saya melihat film itu dimalam lebaran ketika saya masih belasan tahun, hehehe. Dengan list tugas yang menumpuk (ritual tahunan sebelum menyambut lebaran Idul Fitri) dan rasa kantuk yang tidak tertahan rasanya, film Steve Martin menjadi penyelamat dan penyemangat saya untuk bekerja :D. Dalam film ini Steve berperan menjadi seorang ayah (George Banks) yang menyayangi keluarga terutama putri sulungnya. Sekian tahun kuliah di luar negeri kemudian pulang ke rumah dan membawa kejutan bagi ayahnya yang merubah kelakuan ayahnya menjadi menjengkelkan. Saya ingat ketika Kimberly Williams yang berperan menjadi Annie Banks, anak perempuan yang paling disayangi ayahnya memberi kabar bahwa ia akan me...