Terkadang saya sering dongkol, jengkel melihat orang yang membuang sampah sembarangan baik yang sedang berjalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Apa pemikiran orang orang seperti ini menganggap membuang sampah tidak pada tempatnya seperti hal yang wajar saja, kan ada petugas yang membersihkan dan mereka sudah dibayar. Saya menganggap pikiran ini berbahaya dan sama sekali berkontribusi tidak sehat bagi alam.
Awalnya saya tidak terlalu mengamati hal hal seperti ini. Tidak menarik, ngapain juga memperhartikan kebiasaan orang membuang sampah. Tapi ada satu peristiwa yang membuat saya sadar bahwa lingkungan atau dalam lingkup yang lebih besar bumi ini harus dijaga. Sungai dekat rumah yang dulunya lumayan jernih dan banyak ikan (dulu pernah nangkapin ikan kecil kecil) kini sudah banyak sampah terutama di pinggirannya dan beberapa ikan mati. Rasanya seperti tertampar, manusia kini berkontribusi bagi kematian makhluk hidup yang lain. Sejak saat itu lah saya memutuskan untuk membiasakan diri membuang bungkus permen, botol minuman kaleng atau plastik yang sudah ane gunakan ke tempat sampah terdekat.
Sejak membiasakan diri, saya merasa membuang sampah di tong sampah menjadi ringan. Awalnya siy memang terasa berat, terutama karena ngapain harus capek capek buang sampah apalagi pas tidak menemukan satu tong sampah pun yang akhirnya sampah harus disimpan sementara sampai menemukan bak pembuangan sampah terdekat. Cara ini cukup efektif apalagi mana mau orang membawa sampah lama lama dan pasti segera mencari cara agar bisa segera membuangnya. Nah, bagaimana kondisi lingkungan yang terus manusia cemari dengan berbagai macam sampah, selain bau nya yang pasti luar biasa merusak hidung, hehehe berbagai macam penyakit akan timbul dan membahayakan orang orang yang tinggal di sekelilingnya juga menurunnya kualitas hidup.
Kebiasaan memang bisa menjadi pisau bermata dua, menjadi berguna bila seseorang memiliki kebiasaan baik dari kecil sehingga ketika sudah besar seperti pak petani yang ingin memanen hasil usahanya selama bercocok tanam, namun menjadi berbahaya ketika seseorang terbiasa berbohong, mencuri atau menyakiti orang lain dan ketika masa panen tiba, hasil yang buruk lah yang didapatkan misalnya ketidakpercayaan, bangkrut dan hidup yang menderita.
Namun tidak ada kata terlambat untuk memulai kebiasaan baik, berapapun usia anda. Seperti saya yang memulai belajar lagi padahal usia tidak lagi muda (kalau wajah bolehlah diadu, hahaha), memulai disipilin padahal kemalasan adalah hal yang sangat menyenangkan, hikshiks, belajar untuk mengerjakan segala sesuatunya segera (procrastination is not allowed), dan lain lain.
Capai memang tapi saya yakin kebiasaan baik akan membentuk karakter baik pula. Insyaallah :)
Hof, 10 Oktober 2015
Kebiasaan memang bisa menjadi pisau bermata dua, menjadi berguna bila seseorang memiliki kebiasaan baik dari kecil sehingga ketika sudah besar seperti pak petani yang ingin memanen hasil usahanya selama bercocok tanam, namun menjadi berbahaya ketika seseorang terbiasa berbohong, mencuri atau menyakiti orang lain dan ketika masa panen tiba, hasil yang buruk lah yang didapatkan misalnya ketidakpercayaan, bangkrut dan hidup yang menderita.
Namun tidak ada kata terlambat untuk memulai kebiasaan baik, berapapun usia anda. Seperti saya yang memulai belajar lagi padahal usia tidak lagi muda (kalau wajah bolehlah diadu, hahaha), memulai disipilin padahal kemalasan adalah hal yang sangat menyenangkan, hikshiks, belajar untuk mengerjakan segala sesuatunya segera (procrastination is not allowed), dan lain lain.
Capai memang tapi saya yakin kebiasaan baik akan membentuk karakter baik pula. Insyaallah :)
Hof, 10 Oktober 2015

Comments
Post a Comment